September 2, 2020 0 Comments

Hubungan Islam dan Nasionalisme

ISLAM mengajarkan, bahwa cinta tanah air adalah bagian dari Iman. Tanah air kita adalah Indonesia. Mencintai Indonesia adalah bagian dari iman.

Kiai Muhammad Said dalam kitab Ad-Difa’ ani Al Wathan min Ahammi al-Wajibati ala Kulli Wahidin Minna, menjelaskan, umat Islam wajib menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu memupuk persaudaraan dan persatuan di antara kaum Muhajirin (Sahabat Nabi yang hijrah dari Mekah ke Madinah alias penduduk asli Mekah) dengan Ansor (Sahabat Nabi yang membantu Muhajirin alias penduduk asli Madinah), serta mengakomodasi kepentingan umat Islam, umat Yahudi, dan orang-orang Musyrik.

Menyintai tanah air merupakan ajaran Nabi Muhammad. Rasulullah menyintai Mekah dan Madinah, karena dua tempat mulia itu merupakan tanah air Baginda Nabi. Menyintai tanah air adalah bagian dari iman, karena tanah air merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama. Tanpa tanah air, seseorang akan menjadi tunawisma. Tanpa tanah air, agama seseorang kurang sempurna. Dan tanpa tanah air, seseorang akan menjadi terhina.

Syaikh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin, menyebutkan:


حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْماَنِ

“Cinta tanah air bagian dari iman.”

Terkait anjuran untuk menyintai tanah air, Nabi memberikan teladan yang termaktub dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 sebagai berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»

Artinya: “Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, Beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi, setelah melihat dinding Kota Madinah. Bahkan Baginda Nabi sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya.” (HR Bukhari)

Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari juz 3, menjelaskan, hadis di itu menunjukan keutamaan Madinah dan dianjurkannya menyintai tanah air serta merindukannya.

Dalam konteks Indonesia, menjaga kemerdekaan RI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-undang 1945 adalah bagian dari iman dan agama. 

Lalu, bagaimana kita mengisi kemerdekaan Republik Indonesia tercinta?

Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithi, dikutip Muhammad Said dalam kitab Al-Difa’ ani Al Wathan min Ahammi Al Wajibati ala Kulli Wahidin Minna, mengutarakan, al-Quran memosisikan umat Islam pada posisi merdeka, mulia, terhormat, maju, dan mandiri. Jika umat Islam terbelakang, miskin, atau dalam kemunduran, itu lebih disebabkan oleh kecerobohan umat Islam sendiri, yaitu meninggalkan kewajiban dalam mengelola kehidupan duniawi.

Imam An-Nawawi dalam pendahuluan kitab al-Majmu’ menyebutkan: wajib bagi umat Islam bekerja, mandiri, dan produktif dalam segala kebutuhan, walaupun hanya memroduksi sebuah jarum maupun garam. Umat Islam tidak boleh tergantung pada umat lain. Sebab tolok ukur kekuatan umat Islam, tergantung pada kemandiriannya dalam menyukupi kebutuhan.

Maka untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, maju dan berdaulat, setiap warga harus memperjuangkannya sesuai profesi masing-masing. Jika menjadi pejabat, jadilah pejabat yang baik, amanah, jujur, dan tidak korup. Jika menjadi pendidik, jadilah pendidik yang baik, produktif dalam karya ilmiah, jujur, dan mengabdi di masyarakat. Jika menjadi pelajar, jadilah pelajar yang rajin menuntut ilmu di bidangnya, karena ilmumu kelak dibutuhkan oleh bangsa dan umat. 

Dengan kata lain, jadilah warga Negara yang selalu berusaha berbuat baik dalam segala kondisi, tempat, dan berakhlak mulia. Berusaha untuk berbudi pekerti luhur, menjaga moral, dan membangun kecintaan terhadap tanah air dengan jalan yang baik.

Selanjutnya, mengapa hubbul wathan minal îmân? Mengapa perlu menyintai tanah air?

Jawabnya, karena hanya dengan kondisi bangsa dan negara yang aman dan stabil, umat Muslim bisa beribadah dengan nyaman, beramal dengan baik, dan dapat beristirahat dengan nyenyak. Bayangkan saudara kita yang dilanda peperangan seperti di Suriah, Afghanistan, Irak, dan Libia. Mereka tidak pernah merasakan kenyamanan sebagaimana kita rasakan.

Atsar Khalifah Umar bin Khatab, dikutip Syaikh Ismail Haki dalam Tafsir Ruhul Bayan juz 6 disebutkan:

ﻟَﻮْلَا ﺣُﺐُّ ﺍﻟْﻮَﻃَﻦِ ﻟَﺨَﺮُﺏَ ﺑَﻠَﺪُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀ ﻓَﺒِﺤُﺐِّ ﺍﻟْﺎَﻭْﻃَﺎﻥِ ﻋُﻤِﺮَﺕِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥُ

Artinya: “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan berjaya.”

Ya, dengan kecintaan terhadap tanah air, setiap orang ingin menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air, seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik, dan saling bermusuhan.

Dan menjelang Hari Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia, semoga negara ini semakin maju, aman, damai, sejahtera, dicintai rakyatnya, dan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur Negara yang baik, gemah ripah loh jinawe dan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn. (*)

Penulis : H. M. Ulin Nuha, Lc., M.Us.,

Penulis adalah penyuluh agama pada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus sembari khidmah di MA NU dan Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus. Artikel ini dimuat di Bulletin Suara Masjid Agung Kudus edisi 14 Agustus 2020.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *