September 20, 2020 0 Comments

Dr. H. Abdul Muhayya MA: Penting, Ridla Orang Tua dan Kiai

Beberapa santri MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, yang terdiri atas M. Naufal Waliyuddin, A. Wildan Badarul Cham, M. Hamam Fakhri dan M. Azka Tahiyya berkesempatan wawancara dan berbincang santai dengan Dr. H. Abdul Muhayya MA., salah satu alumni madrasah TBS Kudus, yang kini sehari-hari tercatat sebagai dosen di UIN Walisongo Semarang.

Sosok yang senantiasa hormat pada orang tua, guru serta haus akan ilmu, ini sangat sederhana dan bersajaha. Bagaimana Madrasah TBS Kudus dalam pandangannya? Berikut petikan perbincangan itu di kediamannya di Semarang.

  • Sejak kapan Bapak mengenal Madrasah TBS?

Ya, sebenarnya saya sudah lama tahu tentang madrasah TBS, karena pada saat itu saya sudah mondok di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM) asuhan KH. Ma’ruf Irsyad. Jarak (PPRM) lumayan dekat dengan madrasah TBS. Mbah Ma’ruf pun mengajar di sana (TBS). Santri PPRM rata-rata sekolah di madrasah TBS, salah satu madrasah yang cukup dikenal di Kudus.

  • Apa yang memotivasi Bapak masuk di TBS?

Sebenarnya, dulu orang tua saya sudah mengajari tentang kitab-kitab salaf. Dari keinginan saya  menimba ilmu salaf lebih dalam lagi, akhirnya saya mondok di PPRM yang letaknya tak jauh dari tempat kelahiran Saya di Jepara. Setelah mondok di PPRM, saya sekolah di Mu’allimin yang letaknya dulu dekat dengan Al-Ma’ruf. Setelah lulus, saya minta kepada orang tua untuk sekolah agama. Orang tua menyetujui saya sekolah di TBS.

  • Mulai dari jenjang pendidikan apa Bapak masuk di madrasah TBS?

Saya masuk madrasah TBS pertama kali pada 1979 M, tanpa masuk persiapan Madrasah Aliyah (MA). Jadi saya langsung masuk kelas 1 Aliyah di TBS. Saya menimba ilmu di TBS selama tiga tahun (lulus MA).

  • Setelah lulus dari madrasah TBS, Bapak melanjutkan (studi) ke mana?

Dulu saat kelas II MA, saya becita-cita kuliah ke Timur Tengah atau mondok di Lirboyo. Mulai saat itu, saya lebih giat lagi dalam belajar. Saya pernah mengisi sambutan pada saat menjadi Seketaris Persatuan Pelajar (PP) menggunakan Bahasa Arab, itu salah satu cara awal belajar saya agar bisa ke Timur Tengah. Saya mempunyai inspirasi pada saat itu, karena orang orang dari Indonesia banyak yang ke Timur Tengah. Kenapa saya tidak bisa? Itulah salah satu faktor yang membuat saya semangat. Setelah itu, saya bertanya bagaimana caranya agar bisa ke Timur Tengah? Apa saja yang perlu dilakukan? Berbagai cara sudah saya lakukan agar bisa ke sana.

Saat lulus dari TBS, saya tidak jadi ke Timur Tengah, karena wasiat dari orang tua agar kuliah atau mondok yang dekat-dekat saja. Karena amanah orang tua, saya melakukannya. Karena ridla orang tua juga penting dalam mencari ilmu. Akhirnya saya kuliah di IAIN Kudus selama tiga tahun, dan mendapat gelar Sarjana Muda terbaik. Lalu saya disarankan agar kuliah ke IAIN Walisongo Semarang. Lalu saya kuliah di IAIN Walisongo selama 2,5 tahun, alhamdulillah saya menjadi mahasiswa terbaik nomor 2. Karena keminiman saya dalam (penguasaan) Bahasa Inggris, selepas lulus dari IAIN Walisongo, ada tes pembibitan dosen yang salah satu syaratnya adalah menguasai Bahasa Inggris. Setelah itu saya memutuskan belajar Bahasa Inggris. Akhirnya saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah Program Magister (S2) di Mc.Gill University Canada selama dua tahun. Kemudian menempuh studi Program Doktor (S3) di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Setelah itu, saya menjadi dosen tetap IAIN Walisongo Semarang dalam Bidang Ushuluddin.

  • Pengalaman apa yang (berkesan) Bapak dapatkan di TBS maupun di pondok?

Saya pernah menjadi Seketaris PP madrasah TBS dan juga menjadi lurah pondok, saat itu. Di kelas I MA, saya sudah mengajar di kelas I Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada malam hari, atau yang dikenal dengan Madrasah Diniyah (Madin).

  • Prinsip apa yang Bapak gunakan saat menimba ilmu?

Saat menimba ilmu, jangan pernah melupakan ridla orang tua dan kiai. Zaman dahulu, kompetesi/ lomba-lomba belum terlalu ditekankan, tapi sekarang kamu harus menata niat kamu untuk thalabul ilmi serta harus belajar dengan gigih dan lebih serius lagi. Gunakan prinsip, ”Jika saya tidak bias, maka saya akan malu.” Jika ada yang bertanya kepada kamu, kamu harus bisa menjawabnya.

Dulu saya punya mimpi besar. Mimpi adalah tujuan, maka harus digapai. Jadi kalian juga harus punya mimpi dan tujuan untuk kalian gapai. Alumni sebelum saya, pernah mendatangkan tokoh besar dari Mesir. Itulah penyemangat saya dalam menimba ilmu. Salah satu inspirasi saya adalah Ibnu Sina, karena Ibnu Sina orang ‘tidak punya’ tetapi dia ingin menjadi orang yang berpengetahuan, maka dia meminjam buku setiap ingin membacanya. Dia bersusah payah dan belajar dengan sungguh-sungguh, agar bisa mencapai mimpinya.

  • Apa nasihat Bapak untuk para santri yang sedang menimba ilmu saat ini?

Pesan saya kepada santri-santri, terutama santri TBS, yakni agar lebih semangat dalam menimba ilmu. Dan yang terpenting itu ridla kiai dan orang tua. Pepatah mengatakan, “Suatu saat kamu akan menyadari kebodohanmu.” Maknanya adalah, saat kamu sadar bahwa kamu belum bisa, maka kamu harus gigih dan bekerja keras agar bisa. Kamu harus rajin dan lebih giat lagi. Dalam proses belajar jangan takut salah. Coba. Coba. Dan coba lagi. Jangan menyepelekan ilmu. Semua ilmu itu penting. Jangan terlena pada usia yang masih muda. Jadikan masa mudamu jalan menuju kesuksesan di masa tua nanti. Katakanlah! “Yes, i can!” Mulai sekarang, kenali fashion kamu!!! (Naufal)

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *