June 26, 2021 0 Comments

Urgensi Pendidikan Islam Berwawasan Global Berakar Lokal

Oleh H Nur Said SAg MAg MA

Isu-isu global kian menggeliat, mulai dari Pandemi Covid-19 yang berdampak krisis multimensi, konflik Palestina-Israil yang mengusik dimensi kemanusiaan universal kita, hingga krisis lingkungan akibat ulah tangan-tangan manusia telah mengancam masa depan umat manusia.

Demikian pula, berbagai ancaman gerakan ektrem transnasional, yang berdampak pada phobia Islam di tengah perkembangan jaringan internet 5G yang semakin cepat dan minim gangguan, telah menjadikan dunia bagai dilipat. Dunia ini bagai perkampungan global (glabal village), tak terbatas tanpa sekat. 

Pada posisi ini, kita semakin bangga kepada Islam yang sejak awal telah memiliki visi global.  Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin (QS. Al Anbiya: 107). Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menebarkan benih-benih cinta kasih (Islam yang ramah) ke seluruh alam semesta.

Pun dengan Walisongo, teladan dalam dakwah toleran di Islam Nusantara sejak awal abad ke-15 dan ke-16, yang menjalankan misi dakwahnya secara global, namun tetap mengakar, selaras dengan kearifan budaya lokal di mana Islam itu dikembangkan. Jaringan dakwah Walisongo tidak terbatas pada masyarakat Jawa, tetapi memiliki hubungan dengan Jazirah Arab, termasuk Palestina, Hindia dan seluruh wilayah Nusantara.

Sebagai masyarakat Kudus, kita tentu masih ingat dalam tutur tinular para pinisepuh (folklor), bahwa ternyata sejak awal berdirinya kota Kudus, memiliki kesinambungan dakwah dengan Palestina (al-Quds), yang sekarang sedang menderita lantaran dibombardir oleh penjajah  Israel. 

Inskripsi di atas Mihrab Al Masjid Al Aqsha Menara Kudus, menjadi saksi bisu jasa Sunan Kudus setelah berhasil mengobati aneka wabah yang terjadi di Palestina, saat itu. Di samping Sunan Kudus dikenal sebagai waliyyul ilmi, juga ahli dalam dunia pengobatan (spiritual healing) yang perlu dilacak lebih jauh. Ini antara lain peran global Sunan Kudus, di masa itu.

Visi Global Islam Pancasila

Sebagai bangsa yang merdeka berdasar Pancasila, kita masih ingat dalam pembukaan UUD 1945 yang dirumuskan oleh para tokoh bangsa, termasuk para ulama pendahulu kita, bahwa: “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanausiaan dan peri keadilan”.

1 Juni 2021 kemarin, baru saja kita memeringati Hari Lahir Pancasila. Ini menjadi mementum di tengah memasuki era disrupsi, internet of everything (IoE) untuk mengembalikan khittah pendidikan Islam yang berwawasan global, namun tetap berakar pada kearifan lokal. Kecerdasan empati perlu dipupuk merespons isu-isu global, sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara Indonesia dan sekaligus warga global (global citizenship). 

Para Ulama kita terdahulu juga telah memberikan teladan atas peran global mereka, di tengah krisis kemanusiaan dan krisis ideologi global. Tentu masih segar dalam ingatan, pada 1925, setahun sebelum NU berdiri, ketika KH R Asnawi (Kudus) menjadi salah satu anggota Komite Hijaz bersama KH Abdul Wahab Chasbullah, untuk memprotes kebijakan Saudi Arabia di bawah Raja Ibnu Saud yang menganut Wahhabi, akan membongkar sejumlah situs benda cagar budaya, termasuk makam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan alasan menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah.  Pengajaran Islam ala madzhab empat juga dilarang.

Ini tentu bertentangan dengan Aswaja Nusantara. Alhamdulillah, suara komite Hijaz di dengar oleh pihak kerajaan, sehingga sampai sekarang kita (umat Islam dunia) masih bisa berziarah di jejak jejak perjuangan para Nabi dan Sahabat Nabi di Mekah dan Madinah sesuai mazhabnya  masing-masing. Inilah antara lain peran global para ulama kita.

Desain Pendidikan Islam Global

Latar belakang visi Islam global dan situasi sosial budaya itu, mestinya menjadi landasan utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam kini, di berbagai jenjang dan jalur. Maka di tengah kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Merdeka Belajar, juga Semangat Kemenag RI mengusung moderasi agama, Islam sebagai inspirasi bukan aspirasi, tentu tepat mendesain kurikulum pendikan Islam yang relevan dengan tuntutan tersebut.

Inspirasi Islam global secara tekstual sudah termaktub dalam ayat suci al-Quran yang dikenal dengan rahmatan lil’alamin. Islam ramah adalah Islam wasyathiyyah yang berkarakter: tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawassuth (jalan tengah), serta i’tidal (lurus pada jalan yang benar).

Namun untuk menangkap aspek kontekstual Islam global, setiap peserta didik perlu ada pengalaman berinteraksi lintas bangsa, lintas budaya bahkan lintas agama. Itu bisa disesuaikan dengan jenjangnya masing-masing. Ingat pesan al-Quran: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu…”  (QS. Arrum: 42)

Ayat tersebut mengingatkan kita, agar membekali peserta didik supaya memiliki pengalaman global menaklukkan dunia, dan mengambil pelajaran (i’tibar) jejak-jejak para pendahulu di berbagai belahan dunia.

Ini bisa diwujudkan dengan program umroh ilmiah atau program pertukaran pelajar dengan berjejaring berbagai lembaga pendidikan sejumlah negara. Putra-putra kita sudah terlalu sering mengikuti manasik haji, kapan mereka menikmati umroh di usia muda? Bukan sembarang umroh, tetapi umroh yang di dalamnya juga ada riset ilmiah menjejak perjuangan dakwah Islam ramah para Nabi, Sahabat dan para ulama terdahulu.

Maka sejak awal peserta didik perlu disadarkan pentingnya riset (penelitian). Pesan ayat Al-Quran Iqra’, tentu mengingatkan kita akan pentingnya membaca dan menulis (literasi). Baik membaca ayat-ayat qauliyah maupun ayat-ayat kauniyah, fenomena sejarah, dan alam semesta. Sekolah dengan visi seperti itu, tentu akan dirindukan oleh para generasi masa depan bangsa. Wallahu a’lam. (*)

H Nur Said SAg MAg MA

Penulis adalah pendiri Pesantren Riset PRISMA Kudus, dosen IAIN Kudus dan ketua Lakpesdam NU Kudus.

Catatan: artikel ini dimuat di Buletin Jum’at Masjid Agung Kudus edisi 4 Juni 2021.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *